sungguh bangga rasanya ketika mendengar lagu indonesia berkumandang di turnamen olimpiade, sea games, asian games, ataupun taurnamen olah raga lainnya. hal itu menunjukkan masih eksisnya bangsa ini sebgai salah satu bangsa besar di dunia. akan tetapi bila dilihat lebih mendalam di kehidupan nyata, telah terjadi penurunan kualitas nasionalisme sebagai bangsa Indonesia. hal ini dapat dilihat dengan jelas dari gaya hidup anak muda di kota. perempuan-perempuannya sangat gemar memakai pakaian-pakaian minim, ketat, dan tak malu mempertontonkan bagian tubuh yang seharusnya ia tutupi. para lelaki ada yang berdandan nyleneh dengan baju kumal, rambut gimbal panjang, memakai anting, tindik, dan tato. contoh-contoh di atas, walaupun dengan alasan seni, karir de el el, saya kira bukanlah ciri khas dari bangsa yang memiliki ribuan pulau dan adat istiadat serta suku yang majemuk. akan tetapi perilaku-perilaku di atas agaknya sudah menjadi kebiasaan atau gaya berbusana masa kini yang secara tidak langsung telah menggeser gaya berbusana ala ketimuran. okelah kalau busana mengikuti tren sehingga tidak jadul. namun, perlu dipikirkan apakah cara berbusana seperti itu sesuai atau tidak dengan nilai-nilai sosial yang ada di lingkungan tempat dia berada.
itu baru dari segi cara berbusana. ada segi yang lain yang tidak kalah pentingnya yaitu kebanggaan terhadap budaya daerah asli Indonesia. tarian, permainan, lagu, musik dan bahasa daerah sudah jarang dijadikan mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah umum. dampaknya dapat bersama-sama kita lihat, remaja-remaja dan bahkan orang dewasa sangat minim pengetahuan serta apresiasi terhadap tarian, lagu dan musik di daerahnya sendiri. sungguh malang bila tarian-tarian, permainan, lagu dan musik adat yang sangat unik hilang begitu saja tanpa ada yang merasa bertanggung-jawab. produk interaksi sosial yang telah mendarah daging di Indonesia selama berabad-abad tiba-tiba lenyap dalam kurun tiga atau empat dekade. anak-anak kecil sudah jarang bermain cublak-cublak suweng, jamuran, betengan dan dakon. sekarang mereka lebih suka bermain play station dan game-game sejenisnya. lagu-lagu daerah juga sudah tergeser dengan lagu-lagu pop, rock, dangdut dengan musik-musik yang diadopsi dari negera-negara lain. sampai-sampai kebudayaan kita yang begitu masyur ini justru diklaim negera tetangga sebagai produk asli darinya. baguslah bila bangsa ini masih bisa marah melihat hal tersebut terjadi. berarti dalam benak bangsa ini masih ada rasa memiliki terhadap produk-produk budaya tersebut. hal ini harusnya menjadi cambuk kita semua untuk lebih mengapresiasi produk budaya asli bangsa Indonesia. di tengah berbagai pemberitaan negatif tentang Indonesia, nama besar Indonesia sebagai negara dengan tingkat kebudayaan daerah terbesar di dunia harus tetap kita pertahankan.
aspek lain dari nasionalisme yang mulai luntur ialah semangat dalam bersaing dengan negara lain dalam bidang ekonomi dan iptek. kita begitu silau dengan keadaan perekonomian bangsa lain(misal Jepang, Korea Selatan, Inggris dan Amerika) yang begitu merajai perekonomian dunia. semakin kita merasa terbengong-bengong melihat perekonomian mereka semakin membuat kita pesimis dengan keadaan bangsa ini. kita juga selalu mengatakan “wah” bila melihat tekonologi yang berkembang di negara lain tanpa ada tekad untuk menyamai mereka. hal ini tidak seharusnya terjadi. Kita perlu mencari tahu mengapa negara-negara lain bisa mencapai prestasi seperti itu. Amerika Serikat dan Jepang dari segi perekonomian adalah dua negara yang para penduduknya saling berlomba-lomba untuk melakukan memproduksi barang dan jasa kelas satu, dengan biaya dan sumber daya yang terbatas. Selain itu mereka juga pantang untuk menggantungkan diri dengan orang lain. Menghargai waktu mereka jadikan sebagai prinsip. Mereka sudah terbiasa hidup dalam iklim persaingan (tentu saja persaingan yang sehat). Pelajaran inilah yang seharusnya kita petik dan kita tanamkan dalam diri masing-masing. Bukan tidak mungkin ketangguhan ekonomi dan iptek tercapai oleh Indonesia mengingat jumlah dan kualitas dari sumber daya manusia yang didukung dengan sumber daya alam melimpah di Indonesia. Bila setiap sarjana dapat mau meningkatkan produktivitasnya termasuk dengan berwiraswasta saya yakin suatu hari perekomian Indonesia dapat sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Begitu juga dengan ilmuwan-ilmuwan bila tekun berusaha walaupun dengan banyak keterbatasan maka bukan mimpi bila pada masa yang akan datang Indonesia menjadi salah satu negara terdepan dalam iptek.
Modernisasi menurut saya adalah keniscayaan karena kebutuhan manusia yang semakin menginginkan keleluasaan dan kenyamanan dalam hidupnya. Tidak semestinya kita hanya berperan sebagai penonton dalam perkembangan modernisasi tanpa ikut bermain di dalamnya. Sebagai suatu negara dan bangsa, Indonesia merupakan bangsa yang layak dan pantas menjadi salah satu negara dan bangsa maju. Rakyat indonesia sebagai unsur terkecil penyusunnya mulai sekarang harus melangkah maju untuk memberikan sumbangsihnya bagi kemajuan negara dan bangsanya. Benar apa yang dikatakan mantan presiden amerika John F. Kennedy bahwa, “janganlah bertanya tentangg apa yang telah negara berikan kepadamu, tapi tanyalah pada dirimu apa yang telah kau berikan untuk negara”.